Kamis, 06 Agustus 2015

Pengembangan Wisata Bahari Dikuasai Asing, Mana Orang Lokal

Membumbungnya berwisata bahari di Indonesia pastinya menjadi prestise tersendiri. Selain memiliki keindahan alam yang , berwisata bahari turut mengundang adanya para wisatawan nasional maupun internasional. Namun, bukan dominan yang mengerti kepemilikan usaha dalam bidang tamasya bahari dominan dimiliki oleh pihak asing.

“Tahun 98 ini 100 persen perusahaan Indonesia, sekarang 80 persen perusahaan asing,” kata konsultan liburan bahari, Christian Fenie, pada Jakarta, Kamis (30/4/2015).

Dari hasil penelitian yang sedang ia garap, Fenie menemukan realita jika orang lokal kelihatan makin sulit dan tidak berdaya sedangkan perusahaan asing kian menjamur. Mayoritas perusahaan besar dimiliki pihak asing. Sementara, seluruh kalangan lokal cenderung memiliki perusahaan-perusahaan minor.

“Mungkin ini mirip persaingan, tapi anda tidak punyai senjata yang sejenis. Dari pendidikan, pasti mereka (asing) menang,” jelas Fenie.

Minimnya pendidikan diakui Fenie juga mempengaruhi tradisi publik lokal untuk menjual tanah. Kepada ia tidak sedikit publik yang terpancing demi menjual tanah serta bisa jadi menyebabkan eksodus pada wilayah mereka. Kenyataannya, sejak kehadirannya menuju Indonesia 35 season silam, Fenie sudah berpesan di pemerintah Indonesia untuk menjaga kelestarian alam.

“Jaga kebersihan, selamatkan laut kita, siapkan SDM pariwisata, buka sekolah marine tourism, dengan begitu juga perhatikan seluruh kalangan lokal,” bebernya.

Selain menambah pendidikan, perlu begitu juga diadakan pengarahan bagi seluruh kalangan cara suatu tersebut. Karena, adanya pengarahan juga pendidikan bisa menjadi menumbuhkan rasa mempunyai menurut masyarakat lokal dan membuat mereka melindungi kalangan merekapun sendiri. Selain tersebut, datangnya ekowisata begitu juga berhasil membantu perubahan berwisata bahari Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar