Sabtu, 08 Agustus 2015

Wisata Mayura Lombok

Sesungguhnya, Mataram merupakan prioritas kami dalam hari ketiga dan keempat. Tapi, karena kami kurang memuncaki peta wisata Lombok, setelah dari Air Terjun Benang Stokel juga Benang Kelambu, kami langsung menuju Mataram mencari lokasi berlibur apa saja yang bisa ditemui. Kami menemukan Taman Mayura yang tempatnya persis dalam pusat bisnis perkotaan Cakranegara, Mataram, Lombok Barat. Tepatnya dalam belakang SPBU Cakranegara *meski di pusat kota, kami selalu nyasar dong! :))*

Masuk ke Taman Mayura jika tidak salah ingat, perorang ditarik harga sepuluh.000 rupiah. Mungkin karena pada pusat kota, harga tiketnya menjadi cukup mahal :p *dasar pelit!*. Di sini, pengunjung bakal ditawari memanfaatkan jasa guide atau bukan. Ketika itu, kami menggunakan jasa guide untuk menambahkan secara detail sejarah Taman Mayura.

Taman Mayura ialah saksi rekor adanya kerajaan Hindu di Pulau Lombok. Dibangun dalam abad ke-17 tetapi raja Anak Agung Ngurah, Taman Mayura dulunya meraih fungsi sebagai tempat petilasan, tempat kedatangan tamu, tempat bermusyawaah, setelah lokasi istirahat. Ungkap Mayura diambil dari burung merak yang sebelumnya dipakai untuk mengusir ular dalam sekitar taman. Adanya burung merak pada taman tersebut menghadapi usul sahabat raja datang Pakistan--yang saya lupa namanya siapa :/.

Nama asli Taman Mayura sesungguhnya yaitu Taman Mayora. Tapi, karena warga Pulau Lombok kurang fasih menyatakan huruf 'o' maka jadi Mayura. Pelafalan 'ra' juga bukan menikmati huruf 'a' tetapi 'e'. Menjadi jikalau diucapkan berbunyi Taman Mayure. Persis serta Taman Narmada jadi Taman Narmade, Pantai Kuta menjadi Pantai Kute.

Secara Taman Mayura, pengunjung akan di suguhi pemandangan asri laiknya suatu taman dengan suatu kolam besar berada pada tengah. Kolam itu sebagai lokasi mandi para dayang raja. Di tengah kolam pemandian terdapat selasar demi sidang atau lokasi musyawarah lengkap juga 6 patung tokoh Islam dari Pakistan. Keenam patung ini adalah simbol balas jasa raja pada teman karibnya yang berhasil mengusir ular dari taman memakai burung merak. Simbol patung itu serta menandakan datangnya keberagaman agama di Pulau Lombok. Artinya, meski kerajaan Hindu berkuasa saat tersebut, toleransi agama umat Hindu cukup kuat. Itu dibuktikan setelah saat ini. Dimana 40% warga Lombok ialah pemeluk agama Hindu, 55% umat muslim, juga sisanya beragam agama. Suasana Hindunese dalam Lombok khususnya di Mataram tetap terasa, persis mirip di Bali, dominan pura pada tepi cara. Panasnya , meskipun memiliki banyak pura pada tepi tindakan, Pulau Lombok makin dimengerti dengan sebutan Pulau Seribu Masjid. Karena, selama jalan, masjid bertebaran dimana-mana. Jadi, umat muslim yang mendarat ke Pulau Lombok nggak butuh khawatir nggak dapat salat sebab tidak menemukan masjid atau musala.

Kembali menuju Taman Mayura, selain disajikan pemandangan asri taman dan rimbunnya pepohonan disertai angin semilir, pengunjung bakal diajak melalui kalangan peribadatan. Yaitu, Pura Jagatnatha. Pura Jagatnatha merupakan pura terbesa ketiga di Indonesia selepas Pura dalam Borobudur, Jogjakarta juga Pura Bedugul pada Bali. Pura ini terbuka untuk umum. Namun, dalam ketika upacara keagamaan, pura akan disterilkan sebab bakal menjadi pusat keagamaan umat Hindu. Pada sekitar pura terdapat pohon beringin. Untuk kepercayaan, pohon beringin bukan cuma mengandung unsur mistis tapi dan merupakan pertanda sesuatu tempat akan makmur, berjaya, dan selalu aman sentosa. Filosofi itu persis semacam pada Alun-alun Kidul Jogjakarta yang memperoleh dua pohon beringin besar serta sumber kemakmuran buat masyarakat yang memercayai.

Ketika memasuki negara pura, ada seorang keluarga yang mendirikan tenda lengkap serta perabotan rumah tangga. Pemandu menjelaskan, keluarga ini yaitu keluarga beruntung yang berhak mendirikan tenda pada selingkungan pura, tepat di depan lokasi petilasan raja pada dekat kolam air, sepanjang tiga hari berturut-turut. Sebab, keluarga ini sukses melempar botol akua berisi pengharapan dalam salah satu ujung pohon beringin yang diyakini bakal memperoleh berkah, petunjuk, serta peruntungan dari Sang Hyang Widhi. Botol yang dikaitkan dan tali tersebut tidak bakal jatuh dalam kurun ketika satu-dua pekan. Tetapi dapat setelah berbulan-bulan. Bahwa botol jatuh, maka umat Hindu lain terupdate mampu coba faktor luck serupa.

Sekilas, Taman Mayura memang kelihatan bukan ada yang istimewa. Tetapi, menyewa guide mencetak saya sadar jika apa yang kelihatan sederhana tidak sangat sederhana. Justru berhasil menyimpan sejuta kisah memesona. Dalam Taman Mayura, saya bukan hanya belajar sejarah. Namun, saya serta belajar demi makin menghormati pemeluk agama lain selain Islam. Kalau raja Hindu dapat, kenapa umat muslim bukan mampu? Bukankah Nabi Muhammad begitu juga menanamkan toleransi beragama yang sebanding?

Kamis, 06 Agustus 2015

Pengembangan Wisata Bahari Dikuasai Asing, Mana Orang Lokal

Membumbungnya berwisata bahari di Indonesia pastinya menjadi prestise tersendiri. Selain memiliki keindahan alam yang , berwisata bahari turut mengundang adanya para wisatawan nasional maupun internasional. Namun, bukan dominan yang mengerti kepemilikan usaha dalam bidang tamasya bahari dominan dimiliki oleh pihak asing.

“Tahun 98 ini 100 persen perusahaan Indonesia, sekarang 80 persen perusahaan asing,” kata konsultan liburan bahari, Christian Fenie, pada Jakarta, Kamis (30/4/2015).

Dari hasil penelitian yang sedang ia garap, Fenie menemukan realita jika orang lokal kelihatan makin sulit dan tidak berdaya sedangkan perusahaan asing kian menjamur. Mayoritas perusahaan besar dimiliki pihak asing. Sementara, seluruh kalangan lokal cenderung memiliki perusahaan-perusahaan minor.

“Mungkin ini mirip persaingan, tapi anda tidak punyai senjata yang sejenis. Dari pendidikan, pasti mereka (asing) menang,” jelas Fenie.

Minimnya pendidikan diakui Fenie juga mempengaruhi tradisi publik lokal untuk menjual tanah. Kepada ia tidak sedikit publik yang terpancing demi menjual tanah serta bisa jadi menyebabkan eksodus pada wilayah mereka. Kenyataannya, sejak kehadirannya menuju Indonesia 35 season silam, Fenie sudah berpesan di pemerintah Indonesia untuk menjaga kelestarian alam.

“Jaga kebersihan, selamatkan laut kita, siapkan SDM pariwisata, buka sekolah marine tourism, dengan begitu juga perhatikan seluruh kalangan lokal,” bebernya.

Selain menambah pendidikan, perlu begitu juga diadakan pengarahan bagi seluruh kalangan cara suatu tersebut. Karena, adanya pengarahan juga pendidikan bisa menjadi menumbuhkan rasa mempunyai menurut masyarakat lokal dan membuat mereka melindungi kalangan merekapun sendiri. Selain tersebut, datangnya ekowisata begitu juga berhasil membantu perubahan berwisata bahari Indonesia.

Selasa, 04 Agustus 2015

Penyelam Pemula Turut Andil Merusak Karang

Menyelam mampu menjadi pilihan untuk memakai keindahan alam bawah laut. Namun, siapa sangka para penyelam, khususnya pemula, turut andil pada merusak karang di Indonesia. “New divers, merekapun begitu juga merusak karang, mereka pegang karang, injak karang,” ucap konsultan berlibur bahari Christian Fenie ketika menggelar talkshow dalam kegiatan Deep and Extreme, pada Jakarta, Kamis (30/4/2015).

Menurut Fenie, sangat banyak penyelam-penyelam pemula yang bukan paham tentang karang juga dengan bebasnya menyentuh karang-karang itu. Selain ini, minimnya skill yang dimiliki mencetak merekapun tak sukses mengatur diri mereka ketika mengalami arus.

“Education (yang pertama). Seandainya anda miliki intuisi, spotnya sesuaikan sama rata anda miliki intuisi, jikalau kita sudah tepat pasti tak akan bikin rusak. Jika yang tak milik nalar jangan dulu dalam laut pada mana ada karang yang fit,” lanjut Fenie.

Fenie menyayangkan datangnya operator-operator berlibur bahari yang menyajikan event menyelam tanpa melongok prosedur dengan ketentuan yang ada. Seluruh operator, bagi Fenie, cenderung mementingkan omset untuk merekapun pun tanpa memperhatikan kelestarian alam menuju depannya.

“Ini kan dikarenakan semua operator memperoleh orang-orang sembarangan ya mereka jadi pegang sembarangan, rusak semua, yang penentuan bayar. Merekapun (operator tamasya) tak pusing, kita yang pusing,” jelas Fenie.

Masa lalu selama 35 tahun pada laut Indonesia menciptakan Fenie paham betul cara ketika laut Indonesia kini. Banyak karang-karang mati resiko ulah tangan manusia dengan dengan keadaan alam.

“Tsunami, arus dengan mengalahkan karang, tapi itu alam, kita tidak berhasil berbuat apa-apa. Tetapi sarana tangkap ikan, bom, jangkar, limbah beracun, ini para kena karang dan merusak ekosistem,” jelasnya.

Fenie menambahkan, informasi menyatakan season 1980 Indonesia berpotensi jadi pemilik karang nomor 1 di bumi. Sekarang, di 2015 Indonesia sekedar berada di posisi ke-35 juga dengan kekuatan terancam. Seandainya tak melaksanakan pembenahan, Fenie pun membicarakan tak menyudahi kemungkinan semua karang pada Indonesia mampu mati.

Tahun Depan, Indonesia Tuan Rumah Pameran Pariwisata Internasional

Asosiasi nirlaba internasional yang bergerak pada bidang biro perjalanan (travel) dan pariwisata, Pacific Asia Travel Association (PATA), bakal menggelar acara dagang (trade aktivitas) tahunan tiap bulan September yang berjudul PATA Travel Mart dalam kota Jakarta di season 2016 mendatang.

Di kunjungannya menuju Indonesia untuk membicarakan persiapan PATA Travel Mart 2016 juga PATA Indonesia Chapter, CEO PATA Mario Hardy menargetkan partisipasi satu.000 delegasi dari 60 kalangan untuk event ini.

“Jakarta bakal jadi tuan rumah untuk penyelenggaraan PATA Travel Mart yang ke-39. Sedangkan ini PATA Travel Mart ke-38 tahun 2015 tersebut bakal diadakan pada Bangalore, India, tanggal 6-8 September 2015,” ujar Mario dalam Jakarta, Jumat (26/6/2015) malam, seperti dikutip dari siaran pers.

PATA Travel Mart yaitu acara andalan PATA serta salah satu pameran perdagangan terkemuka pada kawasan Asia Pasifik. PATA Travel Mart memiliki program yang dinamis demi keperluan klub-klub pameran dengan menyajikan platform bertaraf dunia untuk mengadakan seantero produk serta jasa industri travel serta pariwisata dari kawasan Asia Pasifik. PATA Travel Mart menyatukan ratusan pembeli dengan penjual mancanegara pada satu ‘pasar’.

Dalam penyelenggaraan PATA Travel Mart tahun 2014 selanjutnya di Phnom Penh, Kamboja, terdapat 450 delegasi penjual berasal 233 organisasi dari 31 negara serta tempat. Sekitar 52 persen dari jumlah delegasi penjual itu pembuka kali ikut serta pada PATA Travel Mart.

Sementara itu pada aktifitas yang sejenis hadir 266 delegasi pembeli dari 252 organisasi dari 48 tempat dengan tempat. 28 persen dari total delegasi pembeli awal kali ikut berkecimpung, serta 60 jurnalis mancanegara meliput kegiatan ini.

Sehari dulunya, Kamis (25/6/2015), CEO PATA Mario Hardy yang didampingi PATA Indonesia Chapter berkunjung ke kantor Gubernur DKI Jakarta untuk mensosialisasikan rencana PATA Travel Mart 2016. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama membicarakan dukungannya kepada penyelenggaraan PATA Travel Mart 2016 pada Jakarta.

“Saya mewakili semua jajaran pemerintah provinsi DKI Jakarta mendukung penuh penyelenggaraan PATA Travel Mart 2016 dalam Jakarta. Kami berterima kasih menurut PATA dikarenakan menentukan Jakarta sebagai tuan rumah acara besar internasional, dan dan atas upayanya untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Tidak sekedar untuk Jakarta, namun dengan negara Indonesia selanjutnya,” ujar Basuki.

Sementara President/CEO PATA Indonesia Chapter Poernomo Siswoprasetijo bersyukur Gubernur DKI Jakarta mendukung penuh penyelenggaraan PATA Travel Mart 2016 pada Jakarta. Adapun sepanjang tiga hari, sejak tanggal 24 Juni hingga 26 Juni 2015 CEO PATA Mario Hardy mengunjungi Indonesia.

Pada harapan tersebut, tanggal 24 Juni lalu, Mario Hardy didampingi Chairman PATA Indonesia Chapter SD Darmono dengan President/CEO PATA Indonesia Chapter Poernomo Siswoprasetijo yang atas juga Menteri Pariwisata RI Arief Yahya di kantor Kementerian Pariwisata dalam Jakarta. Sementara di tanggal 25 Juni 2015, CEO PATA Mario Hardy juga menghadapi dan Manager Utama PT Garuda Indonesia M Arif Wibowo dalam Jakarta.

Senin, 03 Agustus 2015

Destinasi Wisata Baru

Korea Selatan (Korsel) kembali mempromosikan daerah bertamasya merekapun. Selepas dapat mencetak Seoul ialah destinasi tamasya favorit bumi, saat ini Korsel mencanangkan Provinsi Gangwon sebagai destinasi bertamasya yang harus dikunjungi saat berlibur ke Negeri Gingseng ini.

"Provinsi Gangwon satu diantaranya lokasi terindah dalam Korea. Gangwon gunakan banyak gunung, berada begitu juga lautnya," jelas Duta Besar Republik Korea Selatan untuk Indonesia, Taiyoung Cho saat mengadakan 'K-Festival & Enjoy! Gangwon' di Lotte Shopping Avenue, Jumat (1/5/2015).

Selain menawarkan kecantikan alamnya merupakan menu nomor satu mereka, Pemerintah Provinsi Gangwon mengklaim Gangwon sebagai tempat unggulan untuk dikunjungi ketika musim dingin. "Gangwon fantastik demi winter ternyata saljunya selalu bagus. Season salju mampu sampai minus 20 derajat," kata Gubernur Gangwon, Choi Moon Soon.

Untuk menjamu pengunjung Indonesia yang ingin berlibur ke Gangwon, pihak Kedubes Korsel siap membantu pengurusan dokumen perjalanan. Tidak hanya ini, Cho dan menjamin seluruh pengunjung bakal disambut serta terbentang di sana. "Kedutaan Korea bakal selalu bantu untuk visa dan tata usaha lain," tutupnya.

Choi Moon Soon juga Taiyoung Cho hadir pada pembukaan 'K-Festival & Enjoy! Gangwon' yang dilangsungkan di Lotte Shopping Avenue. Kegiatan yang berlangsung di 1-3 Mei 2015 ini mempromosikan keunikan-keunikan yang ada pada Provinsi Gangwon. Tak hanya itu, terhidang booth-booth yang siap membantu seluruh pengunjung yang ingin merencanakan perjalanan mereka ke Provinsi Gangwon.